Cindy Fitrasari S

Hamasah!!!

Ada apa wahai Hati?

April16

Ada apa wahai hati?
kala lantunan nama-Nya tak lagi menggetarkan jiwa
merasa biasa bahkan mengabaikannya

Ada apa wahai hati?
kala ibadah tak lagi nikmat
menjadi sekedar ritual kebiasaan

Ada apa wahai hati?
kala merasa Allah begitu jauh
kala getar cinta itu perlahan menghilang

Ada apa wahai hati?
kala berkumpul bersama orang-orang sholih tak lagi menentramkan jiwa
bahkan merasa diri semakin hampa

Ada apa wahai hati?
ketika menuntut ilmu tak lagi bergairah
semangat lepas, motivasi hilang
dan semua begitu sulit dimengerti!

Ada apa wahai hati?
kala menghafal satu ayat saja begitu sulit
kala waktu senggang selalu terbuang

Ada apa wahai hati?
kala semangat perjuangan terus memudar
kapasitas diri tak kunjung bertambah

Ada apa wahai hati?
saat ikhlas seolah terampas
menjelma jadi bahagia akan pujian

Ada apa wahai hati?

MISTERI KEGALAUAN MISTER KOMTI

December13

sebuah cerpen iseng >,<
Oleh: Ndy Depuratum Rotinsulu

Mister komti. Begitu kami biasa memanggilnya. Sosok ramah bersahaja khas suku sunda tergambar jelas dalam dirinya. Namun beberapa hari ini air mukanya terlihat berbeda. Rona kegelisahan tergurat jelas di wajahnya. Seperti terdapat sesuatu yang berat menimpa atau sedang dipikirkannya.
“Besok malam ada syuro komti se-TPB. Antum hadir ya.”
“Oke. Insya Allah siap!” Katanya penuh semangat.
Teeeteeett! Nada dering pesan mengacaukan konsentrasinya saat kuliah PPKH. Dia segera membukanya.
Assalamu’alaikum…
Bagaimana kabar iman hari ini? Adik-adik 48 anggota IKMT diharapkan hadir pada silaturahim perdana pengurus baru IKMT hari ini pukul 15.45 di Kortan. Akan ada pemilihan Mas’ul dan mas’ulah serta pembagian divisi. Jazakumullah.
Agenda baru berlomba mengisi setiap detik di hari-harinya Mister komti pun harus merevisi jadwalnya tiga kali bahkan bisa lebih dalam satu hari. Dengan semangat ala aktivis semua kegiatan diikutinya dengan penuh semangat dan keceriaan. Baginya, bermanfaat bagi orang lain adalah prinsip hidup yang harus senantiasa dipegang teguh. Seperti kata Rasulullah saw, “manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
“Nanti jangan lupa teman-temannya dikasih tahu lusa ada kuliah pengganti.” Kata dosen kimia.
“Iya, Bu.” Katanya sambil menganggukkan kepala.
Diketiknyalah sederet kalimat berisi pemberitahuan tentang kuliah pengganti. Kemudian dia langsung mengirimnya ke 56 warga PO1.
@@@

Siang ini mister komti tak terlihat di kelas. Batang hidungnya pun tak nampak sama sekali. Beberapa orang tentu merasakan ketiadaan dirinya, namun sisanya mungkin tak mempedulikannya.
“Mister komti gak masuk ya?”
“Iya kayaknya, tapi tadi pagi ada kok.”
“Kemana ya dia?”
“Sakit mungkin.”
Esoknya mister komti terlihat kembali. Keadaannya semakin mengkhawatirkan, tak ada lagi aura keramahan apalagi keceriaan di wajahnya. Tentu kejanggalan itu menimbulkan sederetan pertanyaan bagi beberapa warga PO1 yang mempedulikannya. Kenapa mister komti jadi bermuram durja seperti itu? Apakah dia memiliki masalah yang berat? Apakah nilai ujiannya jelek gara-gara terlalu banyak amanah yang ia pegang?
“Kamu kenapa, mister komti? Tanya Zaenal, salah satu teman akrabnya.
“Gak apa-apa kok,” jawabnya dengan raut muka nyaris tanpa ekspresi.
“Tapi aku melihat ada sesuatu yang tak biasa darimu. Raut mukamu tak mampu menyembunyikan kejanggalan itu mister komti. Ayolah, ceritakan apa yang membuatmu menjadi sejanggal ini.”
“Eee..mmm…nanti aku ceritakan. Tapi jangan disini ya. Terlalu banyak orang. Terima kasih atas perhatianmu, Sobat.”
“Oke, kembali kasih.”
@@@

Selepas kuliah Zaenal dan mister komti duduk-duduk di lobi asrama. Mereka terlihat tengah membicarakan sesuatu yang bersifat amniyah*.
“Kemarin siang kenapa gak masuk kuliah? Kamu sakit?”
“Ng..nggak kok. Aku sehat-sehat aja.”
“Lantas?”
“Kemarin siang aku nyuci baju Nal. Ternyata aku belum nyuci baju selama dua minggu. Baju bersihku hanya tersisa satu pasang! Jadi kemarin kucuci semuanya dan kukorbankan kuliahku demi berlangsungnya kehidupanku.”
Zaenal menahan tawa, “Terus, kenapa sampai sekarang mukamu masih masam seperti itu? Bukankah bajumu telah selesai kau cuci?”
“Iya, semuanya sudah tercuci.”
“Jadi, sebenarnya apa yang membuatmu gelisah?”
“Baju yang kemarin dicuci itu belum ada yang kering satu pun Nal! Kemarin sore hujan deras dan aku sedang silaturahim IKMT, jadi jemuranku tak terangkat karena teman sekamar pun sedang kuliah.”
@@@

Sabtu, 19 November 19, 2011
00.00 WIB
Ruang imut A1/77
Ndy Depuratum Rotinsulu

November3

JOUNEY OF THE DAY
Oleh: Cindy Fitrasari S.

Jakarta, 29 Oktober 2011
Aku duduk manis bertopang dagu di dalam angkot. Mencoba menerawang sekeliling. Oh Jakarta, indah sekali. Kendaraan bermotor menjuntai panjang sepanjang jalan Cilandak-Pasar minggu. Kendaraan roda empat berjalan merayap selembut kura-kura. Kendaraan roda dua salip kanan salip kiri mencari celah sekecil apapun agar cepat sampai di tempat tujuan. Asap-asap buangan kendaraan-kendaraan itu begitu menyesakkan, namun asap-asap itu seolah sudah menjadi oksigen yang setiap orang akan merasa baik-baik saja saat menghirupnya.
Eeeettss…badanku tertarik ke belakang. Rupanya supir angkot menambah kecepatannya dan menyalip beberapa mobil sedan di depannya. Alhamdulillah tidak terjadi hal buruk yang kukhawatirkan.
Fiuh..sedikit bisa bernapas lega. Tapi…eh, apa-apaan ini supir angkot? Dia mengemudikan angkotnya di jalur busway. Kecepatan angkot semakin bertambah karena medan yang dilaluinya nyaris tanpa hambatan. Aku hanya manyun dan berharap kegilaan ini cepat berakhir.
Selang beberapa menit, angkotpun berbelok arah.
“Turun di sini aja Neng.”
Hah? Aku melongo. Mana bisa dia seenaknya saja menurunkan aku di tengah jalan seperti ini.”
“Gak usah bayar deh.”
Hah? Emang seharusnya gak usah bayar. Parah banget kalo dia minta bayaran juga sementara aku ditelantarkan.
“Turun sini nih, Bang?”
“Iya.”
Akhirnya aku turun juga dari angkot itu tanpa berkomentar sedikitpun pada sang supir. Dengan muka manyun aku berjalan ke dekat trotoar. Tak lama kulihat kembali mobil angkot dengan nomor 61. Ketika mobil itu tepat berada di hadapanku, aku langsung menyetopnya. Masuk dan kembali duduk manis di dalam angkot.
“Ke stasiun ya, Bang.” Begitu kataku di dalam hati.
Masih dengan keadaan duduk manis bertopang dagu. Kulirik jam tanganku. Pukul 13.15. Sudah tak sabar ingin cepat sampai di stasiun.
HALTE SEKOLAH.
Hah? Halte sekolah? Sepertinya aku kenal daerah ini, bahkan sering melewatinya. Tapi sepertinya ada yang salah dengan angkot ini. Mungkin juga isi kepalaku yang salah. Ini jalan kembali ke rumah! Berlawanan arah dengan stasiun. Hah? What the hell!
***

Jalanan semakin sesak. Kulihat semakin banyak kendaraan yang nekad menerobos jalur busway. Angkot, kopaja, bahkan sepeda motor pun dengan seenaknya melaju di atas jalur khusus itu. Asap kendaraan membuat kepalaku sedikit pening. Asap rokok seorang penumpang di hadapanku semakin membuat pening kepalaku. Ah..ingin rasanya aku memarahi perokok itu!
Kuperhatikan lagi jalanan di sekeliling. Hatiku semakin yakin bahwa ini adalah jalan kembali ke rumah. Huaaaaa…kenapa aku bisa sebodoh ini? Kenapa supir angkot tadi menurunkan aku di tengah jalan? Seharusnya jika tidak niat narik angkot gak usah nerima penumpang.
Aku masih terdiam. Memikirkan dimana sebaiknya aku turun dan berganti angkot.
“Kiri, Bang!”
Dengan berat hati aku membayar. Jalan yang tepat untuk mencari angkot kembali. Belum sampai di seberang jalan sebuah angkot berhenti. Rupanya supir angkot itu mengerti bahwa aku berniat naik angkot.
“Ke stasiun ya Bang.” Kali ini aku jelas mengatakannya, bukan lagi di dalam hati.
Supir itu mengangguk.
Angkot bernomor 61 itu melintasi jalan Cilandak-Pasar minggu. Keadaan jalan itu tak jauh berbeda dengan ketika aku naik angkot sebelumnya, bahkan semakin padat.
ENDAH HOTEL & RESTAURANT. Kembali aku melihat tempat itu. Kekesalanku pada supir angkot yang menurunkanku di tengah jalan tadi muncul kembali. Kulirik jam tangan. Huft..seandainya supir angkot itu tak menurunkanku, pasti sekarang aku sudah berada di dalam kereta. Muncul kekhawatiran tidak akan mendapatkan kereta ke Bogor karena saat ini PT KAI tengah membatasi kereta tujuan Jakarta-Bogor dan sebaliknya.
Angkot perlahan merayap. Kali ini melintasi pasar minggu. Pasar itu penuh sesak. Pandanganku berpendar ke sekitar pasar. Seorang wanita tua tengah menjajakan buah yang akan ia jual. Pengamen-pengamen kecil yang masih berusia sekolah terlihat begitu bahagia menyanyikan lagu di tengah kehidupannya yang entah sepahit apa. Seorang kakek tua tengah terkantuk karena mungkin dagangannya belum laku sejak pagi. Seorang wanita tertidur pulas beralaskan selembar kertas kardus.
Ada semacam teguran kecil dari apa yang kulihat. Mereka tak pernah letih apalagi mengeluh dengan keadaan seperti itu. Sementara aku yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri selama ini terlalu banyak berkeluh kesah. Agenda di IPB yang begitu padat terkadang membuatku kesal dan merasa hidup terkekang. Ternyata selama ini aku kurang bersyukur. Astaghfirullah..ampuni hamba ya, Rabb.
Angkot terus bergerak, perlahan tapi pasti. Jalanan semakin sesak. di tengah kemacetan itu terlihat seorang kakek membawa setumpukan handuk kecil sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sementara ketiga jari lainnya ia lipat. Mungkin ia ingin member tahu bahwa handuk yang ia jual harganya dua ribu atau dua puluh ribu. Kakek itu sempat menawarkannya padaku dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya tanpa berbicara.
Secepat kilat kakek itu menghilang di tengah kemacetan. Ah..ada rasa menyesal tak mengindahkan tawaran kakek itu. Sebenarnya ada keinginan untuk membeli handuk itu. Aku sempat berharap kakek itu akan kembali menawarkan handuknya sekali lagi. Beberapa saat kemudian kakek itu muncul kembali di hadapanku dengan gaya yang sama. Tapi entah kenapa lidah ini seolah kelu untuk menanyakan harga handuk itu dan akhirnya kakek itu pun kembali menghilang di tengah kemacetan.
Angkot terus merayap. Aku melihat kembali kakek itu sibuk menawarkan handuknya. Aku berharap lagi kakek itu kembali menawarkan handuknya paadaku. Penyesalan pun muncul saat kakek itu benar-benar sudah tak terlihat lagi.
“Sudah di stasiun, Neng.”
“Oh, iya Bang. Terima kasih.” Kataku sambil menyerahkan selembar uang dua ribuan.
***

“Commuter line ke Bogor jam berapa, Mas?”
Petugas tiket melirik jam dinding sesaat kemudian menjawab, “Sekitar 15 menitan lagi Mbak.”
Aku sedikit manyun. Aku agak risih jika dipanggil ‘mbak.’
“Mau buru-buru nggak Mbak?”
“Nggak juga sih. Beli satu ya, Mas.”
Kemudian petugas itu memberikan tiketnya.
“Mmm..mas bisa minta jadwal pemberangkatan kereta dari Jakarta ke Bogor atau sebaliknya nggak Mas?”
“Biasanya berangkat jam berapa, Mbak?”
Aduh..ingin sekali mengatakan pada petugas ini bahwa aku nggak mau dipanggil ‘mbak.’
“Keretanya setiap 15 menit ada kok Mbak. Kalo mau mbak tulis saja jadwalnya. Silahkan masuk.”
“Ng..nggak usah deh Mas. Nanti saja. Saya nggak bawa kertas.”
“Ini kertasnya Mbak. Silahkan ditulis saja jadwalnya.”
Akhirnya aku menulis jadwal pemberangkatan kereta. Tak semuanya kucatat, hanya jam pemberangkatannya saja. Itu pun tidak semuanya.
“Terima kasih, Mas,”
“Kembali.”
***

Kulirik jam tangan. Pukul 14.40. Kereta tak kunjung muncul. Padahal petugas tadi bilang keretanya 15 menit lagi datang. Huft..aku sudah setengah jam menunggu. Stasiun semakin ramai.
Beberapa KRL ekonomi tujuan Bogor-jakarta sudah beberapa kali melintas, begitu pun yang commuter line. KRL ekonomi penuh sesak. puluhan orang duduk di dekat pintu bahkan ada yang duduk di atas gerbong. Lebih gila lagi ada yang bergelantungan di belakang gerbong. Aku hanya menggeleng-geleng melihatnya. Miris sekali melihat fenomena yang sudah dianggap wajar itu.
Ingatanku melayang ke beberapa bulan yang lalu ketika aku berada di dalam KRL ekonomi. Suasana yang jauh dari kata nyaman itu melintas kembali di benakku. Suasana penuh sesak itu terasa kembali. Orang-orang yang raut wajahnya terlalu menyeramkan bagiku hadir kembali. Ingatan dimarahi seorang bapak-bapak pun kembali hadir. Orang-orang di dalamnya bisa tenang dalam ketidakamanan atau mungkin berpura-pura tenang dalam kegelisahan. Harga tiket yang murah mungkin jadi alas an kenapa mereka bertahan pada angkutan umum yang jauh dari kata layak itu.
Aku bukan seorng mahasiswa berdompet tebal sehingga lebih memilih menggunakan jasa commuter line daripada KRL ekonomi. Alasannya lebih kepada faktor keamanan!
14.55. Kereta akhirnya datang juga. Aku sudah tak sabar ingin segera sampai di Bogor. Betapa terkejutnya ketika gerbong yang kumasuki penuh sesak. Naas, aku tak dapat tempat duduk.
***

Bogor, 29 Oktober 2011
Alhamdulillah…akhirnya sampai juga di Bogor. Begitu keluar dari stasiun Bogor lautan angkot menanti. Bogor yang katanya kota hujan itu sekarang ini lebih tepat disebut sebagai kota angkot. Iklim yang sudah tak menentu membuat kegalauan bagi nama Kota Bogor. Kota yang disebut sebagai kota hujan ini nyatanya tak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya. Udaranya panas, curah hujan semakin menurun dan angkot semakin hari kian membanjiri kota ini.
“yo Ladon yo, Ladon yo!” Teriak seorang kenek angkot.
Kupercepat langkahku menyebrang jalan ke arah Taman Topi dan langsung masuk ke dalam angkot. Angkot penuh dan suasana sesak pun tak bisa dihindari.
Angkot pun berhenti di terminal Laladon.
“Kampus Dalam, Kampus Dalam. Ayo Kampus Dalam dua orang lagi.” Teriak seorang kenek.
Kuhampiri angkot jurusan kampus dalam itu. “wadduh! Penuh banget.”
“Ayo Mbak. Masih muat. Ayo ayo geser.”
Terpaksa aku naik juga karena hari sudah mulai beranjak senja dan sepertinya angkot yang ke Kampus Dalam tinggal satu.
Angkot perlahan melaju. Jalanan Kota Bogor terpantau ramai, namun tak sepadat Jakarta. Di dalam angkot aku sedikit terkantuk karena kelelahan. Beberapa saat kemudian penumpang turun satu per satu. Ketika sampai di Berlin, aku dan 4 orang lainnya pun turun. Ah..sudah tak sabar kembali menghirup udara segar asrama.
Dari Berlin berjalan perlahan menyusuri Fakultas Pertanian dan Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, melewati Gymnasium dan kantin Agri. Akhirnya kujumpai plang kecil bertuliskan ASRAMA PUTERI TPB IPB. Kulewati gerbangnya dan sampailah di gedung berlantai dua dengan tulisan A1.
“Assalamu’alaikum lorong enam…” Kuucapkan salam. Namun suasana di lorong hening. Tak seorang pun menjawab.
Kubuka kamar bernomor 77. Taraaaa…kamar itu kosong! Rupanya mereka belum kembali ke Asrama dan masih menikmati liburannya.
***

Asrama Puteri TPB IPB
Ruang imut 77, di bawah naungan cinta-Mu
22.50 WIB
Cindy Fitrasari S

Hello world!

August10

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

posted under coretan saya | 1 Comment »